๐Ÿฆ Allah Ada Tanpa Tempat

Dalamhadis diatas ada dua larangan, yaitu : 1. Larangan berdua-duan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dan belum resmi menikah. Dalam hal ini, para ulama telah sepakat bahwa perbuatn itu haram hukumnya, tanpa pengecualian. Dalam hadis lain ditambahkan bahwa kalau laki-laki dan perempuan yang bukan mahram berkumpul, maka yang Artinya Sesungguhnya Dia Taโ€™ala ada (dari azali) sementara tempat belum diciptakan, kemudian Allah mencipta tempat dan Dia tetap dengan sifatnya yang azali itu sebagaimana sebelum terciptanya tempat, tidak harus ke atas Allah perubahan. Dinuqilkan oleh Imam Al-Zabidi dalam kitabnya Ithaf al-Sadatil Muttaqin jilid 2 halaman 23 Makakesimpulan yang bisa kita ambil adalah Allah ada tidak bertempat, kerena bertempat adalah salah satu cirri khas dari makhluk yang mustahil bagi Allah. Tentang bagaimana sebenarnya zat Allah swt, Allah lah yang lebih mengetahuinya. Manusia hanya bisa mengenal Allah dan membedakannya dari yang lain melalui sifat-sifatnya. Wallahua'lam. Tags: Kitatidak dapat mengharapkan sebuah kehidupan yang tanpa ada masalah dan tekanan sebab selama kita masih hidup di dunia ini maka kita tidak akan pernah luput dari masalah. Saya mengundang anda semua untuk masuk ke dalam kehidupan yang intim dengan Allah. Ada sebuah tempat rahasia sukacita yang telah disediakan oleh Tuhan bagi setiap orang SosokManusia Tanpa Nama. Sejarah mencatat ada seorang yang shalih yang hidup pada zaman Nabi Muhammad Shalallahu โ€˜Alaihi Wasaalam namun beliau tidak pernah bertemu dengan Rasulullah. Dialah Uwais Al-Qarni seorang yatim yang tinggal di Yaman dan hanya tinggal bersama ibunya yang sudah renta. Uwais Al-Qarni berasal dari kabilah Murad AllahSWT hidup kekal dan abadi tidak terbatas oleh waktu, keadaan, dan tempat karena Allah SWT maha sempurna. Sifat wajib hayyan Allah SWT menyatu dengan sifat wajib Allah SWT yakni sifat hayat. Sifat wajib samโ€™an berarti Allah SWT maha mendengar segala sesuatu yang ada di alam semesta. Tanpa terbatas pada tampak tidak tampak, maupun Allahada tanpa tempat. 487 likes. Personal Blog Dalilatas ini adalah bahawa Dia ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Setelah mencipta tempat Dia tetap pada sifat-Nya yang Azali sebelum menciptakan tempat, ada tanpa tempat. Tidak boleh pada hak Allah adanya perubahan, baik pada Dzat-Nya mahupun pada sifat-sifat-Nya. Kerana sesuatu yang mempunyai tempat maka ia pasti mempunyai arah bawah ALLAHADA TANPA TEMPAT. 23.18 Von Edison Alouisci No comments. Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook. Membongkar Aqidah Sesat Wahhabi Yang Sering Berbohong Besar Atas Nama Imam Abu Hanifah. Di sini ada pernyataan yang harus kita waspadai, ialah pernyataan Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah. Dalamkonteks kucing yang datang saat makan, mengingatkan kalau karena Allah yang kita terima juga harus dibagikan dengan makhluk lain, seperti kucing. Artinya dalam makanan yang disantap, ternyata ada rezekiuntuk kucing yang seharusnya kita berikan. 2. Memberi makanan kepada makhluk Allah, termasuk kucing merupakan sebuah kebaikan. Judulasli: โ€œGhรขyah al-Bayรขn Fรฎ Tanzรฎh Allรขh โ€˜An al-Jihah Wa al-Makรขnโ€ Penjelasan Lengkap Allah Ada Tanpa Tempat & Tanpa Arah dalam Berbagai Karya Ulama Ahlussunnah Wal Jamaโ€™ah Lintas Masa Dan Generasi Terjemah oleh: Kholil Abu Fateh, MA. Bismillรขh ar-Ra h mรขn ar-Ra h รฎm Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas makhluk paling mulia, Muhammad, juga atas seluruh CaraMasuk Surga Sesuai Dengan Tuntunan Allah dan Rasul. Allah berfirman โ€œ Sesungguhnya orang โ€“ orang yang beriman dan beramal soleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal. Mereka kekal didalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padannya โ€œ (QS.Al Kahfi : 107 โ€“ 108) WBNY. Error 404 Tidak Ditemukan Halaman yang Anda tuju tidak tersedia menjawab pertanyaan Dimanakah Allah ? Allah Ada Tanpa Arah dan Tempat. Ulama sepakat. Ini dalil nya Pertanyaan Banyak orang yang bertanya dimana Allah, bahkan ada yang menjawab dengan Allah ada dimana-mana. Ustadz, bagaimana sebenarnya hakikat Allah mengenai tempat dan arah? Bagaimana dengan hadits al-Jariyah yang menyatakan bahwa Rasul ketika ditanya dimana Allah, beliau menjawab โ€œFi al-Samaโ€? Khoirul Umam, Jombang Jawaban Imam Syafiโ€™i ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ sebagaiman termaktub dalam kitab Ithaf al-Sadati al-Muttaqin, berkata ุฅู†ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูƒุงู† ูˆู„ุง ู…ูƒุงู† ูุฎู„ู‚ ุงู„ู€ู…ูƒุงู† ูˆู‡ูˆ ุนู„ู‰ ุตูุฉ ุงู„ุฃุฒู„ูŠุฉ ูƒู…ุง ูƒุงู† ู‚ุจู„ ุฎู„ู‚ู‡ ุงู„ู€ู…ูƒุงู† ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุชุบูŠููŠุฑ ูู‰ ุฐุงุชู‡ ูˆู„ุง ููŠ ุตูุงุชู‡ โ€œSesungguhnya Allah taโ€™ala ada dan tidak ada tempat, maka Dia Allah menciptakan tempat, sementara Dia Allah tetap atas sifat azali-Nya, sebagaimana Dia Allah ada sebelum Dia Allah menciptakan tempat, tidak boleh atas-Nya berubah pada dzat-Nya dan pada sifat-Nyaโ€. [Kitab Ithaf As-Sadati Al-Muttaqin โ€“Jilid 2-halaman 36]. ุฅู†ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูƒุงู† ูˆู„ุง ู…ูƒุงู† โ€œSesungguhnya Allah taโ€™ala ada dan tidak ada tempatโ€ Maksudnya adalah bahwa Allah telah ada tanpa permulaan, disebut azali atau qadim, dan belum ada tempat seperti Arasy, langit, bumi, dan segala makhluk lain nya. Allah taโ€™ala sudah sempurna dengan segala sifat-Nya yang azali sebelum ada apa pun selain-Nya. Sifat-sifat dzat Allah tidak lantas bertambah ketika Allah menciptakan makhluk-Nya; ูุฎู„ู‚ ุงู„ู€ู…ูƒุงู† ูˆู‡ูˆ ุนู„ู‰ ุตูุฉ ุงู„ุฃุฒู„ โ€œMaka Dia Allah menciptakan tempat, sementara Dia Allah tetap atas sifat azali-Nyaโ€ Maksudnya, kemudian Allah menciptakan tempat, artinya bukan tempat Allah, tapi menciptakan makhluk-Nya. Imam Syafiโ€™i ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ berkata bahwa Allah tetap atas sifat azali-Nya, artinya sekalipun setelah ada makhluk-Nya, Allah tetap bersifat dengan sifat-sifat azali-Nya. Tidak ada sifat yang bertambah bagi Allah setelah adanya makluk-Nya. Karena sifat yang baru ada setelah adanya makhluk, itu juga termasuk makhluk. ูƒู…ุง ูƒุงู† ู‚ุจู„ ุฎู„ู‚ู‡ ุงู„ู€ู…ูƒุงู† โ€œSebagaimana Dia Allah ada sebelum Dia Allah menciptakan tempatโ€ Maksudnya, sebagaimana Allah ada sebelum adanya makhluk, dengan segala sifat kesempurnaan-Nya. Begitu juga Allah dan sifat-Nya setelah adanya makhluk, tidak dapat memberi pengaruh apa pun terhadap dzat dan sifat Allah, Allah maha sempurna jauh sebelum adanya makhluk. ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุชุบูŠููŠุฑ ูู‰ ุฐุงุชู‡ ูˆู„ุง ููŠ ุตูุงุชู‡ โ€œTidak boleh atas-Nya berubah pada dzat-Nya dan pada sifat-Nyaโ€ Maksudnya, tidak boleh mustahil ada perubahan pada dzat dan sifat Allah. Tidak terjadi perubahan pada Allah bukan berarti itu kelemahan atau kekurangan Allah, tapi justru bila berubah, dapat menimbulkan kekurangan bagi Allah, karena Allah maha sempurna. Berubah dari sempurna tentu dapat menjadi kekurangan bagi-Nya. Setiap perubahan adalah makhluk, karena tidak ada yang dapat berubah dengan sendiri nya kecuali Allah yang menciptakan perubahan tersebut, sementara Allah adalah khaliq, bukan makhluk. Maka dengan memahami perkataan Imam Syafiโ€™i ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ di atas, dapat pula kita pahami Aqidah Imam Asy-Syafiโ€™i ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ bahwa Imam Syafiโ€™i ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ meniadakan tempat bagi dzat Allah. Allah ada tanpa arah dan tempat, inilah hakikat aqidah ulama salaf, sangat bertolak-belakang dengan aqidah kaum mujassimah yang menjisimkan Allah, dan kaum musyabbihah yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Mereka menduga Arasy adalah tempat persemayaman Tuhan, padahal Arasy juga makhluk-Nya, yang baru ada ketika diciptakan oleh-Nya. Lagipula sifat-sifat kesempurnaan Allah telah ada sebelum adanya Arasy dan segala makhluk lain nya. Terkait hadits riwayat Imam Muslim, tentang fi samaโ€™, maka mesti dikembalikan pada ayat muhkamat bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk, dan karena itulah Allah tidak bertempat. Jadi takwil fi sama itu adalah Allah Maha Luhur. Dalam sebuah haditnya riwayat Imam Bukhari Rasulullah bersabda ูƒุงู† ุงู„ู„ู‡ ูˆู„ู… ูŠูƒู† ุดูŠุก ุบูŠุฑู‡ โ€œAllah ada wujud, dan tidak ada belum ada sesuatupun selainnyaโ€ Hadits lain ุงู†ุช ุงู„ุธุงู‡ุฑ ูู„ูŠุณ ููˆู‚ูƒ ุดูŠุก ูˆุงู†ุช ุงู„ุจุงุทู† ูู„ูŠุณ ุฏูˆู†ูƒ ุดูŠุก โ€œEngkau dhahir, maka tidak ada sesuatu pun yang ada di atas-Mu, dan Engkau adalah bathin, maka tak ada sesuatu pun yang ada di bawah-Muโ€ Demikian pula Sayyidina Ali yang mengatakan ุงู† ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฎู„ู‚ ุงู„ุนุฑุด ุงุธู‡ุงุฑุง ู„ู‚ุฏุฑุชู‡ ู„ุง ู…ูƒุงู†ุง ู„ุฐุงุชู‡ โ€œSesungguhnya Allah itu menciptakan arasy untuk menunjukkan kekuasaan-Nya, bukan sebagai tempat bersemayam untuk dzat-Nya. Untuk itu, dalam memahani sebuah hadits tidak bisa hanya sekali duduk, artinya harus membandingkan dengan al-Qurโ€™an dan hadits lain yang bisa jadi bertentangan. Atau, dalam memahami hadits, harus memahami asbabl wurud, sebab-sebab hadits tersebut dikeluarkan. Maha suci Allah dari Arah dan tempat. Berikut ini adalah sebagian dalil Al-Qurโ€™an dan Hadits yang menyebabkan Ahlussunnah wal Jamaah Asyโ€™ariyah-Maturidiyah berkesimpulan bahwa Allah ada tanpa tempat. Dalil pertama, sabda Rasulullah ๏ทบ ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ุดูŽูŠู’ุกูŒ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู โ€œAllah sudah ada dan tak ada apa pun selain Dia.โ€ HR. Bukhari Hadits shahih ini menegaskan bahwa Allah telah ada sebelum apa pun. Di manakah Allah saat itu? Ini pertanyaan tak relevan sebab semua tempat belum tercipta saat itu. Apakah tidak bisa dikatakan bahwa sebelumnya Allah memang tak bertempat lalu kemudian menciptakan tempat lalu menempati tempat itu? Tentu tidak bisa, sebab kesimpulan seperti ini tak ada dalilnya, baik secara naqli atau aqli. Karenanya, Ahlussunnah meyakini bahwa sejak awal Allah tak bertempat dan selamanya demikian. Dalil kedua, firman Allah ๏ทป ู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ู ูˆูŽุงู„ู’ุขุฎูุฑู ูˆูŽุงู„ุธู‘ูŽุงู‡ูุฑู ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽุงุทูู†ู โ€œDialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Nampak dan Yang Samar.โ€ QS Al-Hadid 3 Ayat di atas ditafsiri oleh Nabi Muhammad ๏ทบ sebagai berikut ุงู„ู„ู‡ูู…ู‘ูŽ ุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุงู„ู’ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ู ููŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽูƒูŽ ุดูŽูŠู’ุกูŒุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุงู„ู’ุขุฎูุฑู ููŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุจูŽุนู’ุฏูŽูƒูŽ ุดูŽูŠู’ุกูŒุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุงู„ุธู‘ูŽุงู‡ูุฑู ููŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ููŽูˆู’ู‚ูŽูƒูŽ ุดูŽูŠู’ุกูŒุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุงู„ู’ุจูŽุงุทูู†ู ููŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุฏููˆู†ูŽูƒูŽ ุดูŽูŠู’ุกูŒ "Ya Allah, Engkau adalah yang awal maka tidak ada sebelum-Mu sesuatu apa pun. dan Engkau adalah yang akhir maka tidak ada setelah-Mu sesuatu apa pun. Dan Engkau adalah Yang Nampak maka tidak ada di atas-Mu sesuatu apa pun dan engkau adalah Yang Tak Tampak maka tidak ada di bawah-Mu sesuatu apa pun.โ€ HR. Muslim Hadits ini dengan amat jelas menyatakan bahwa di atas atau di bawah Allah tak ada apa pun. Berbeda dengan hadits pertama di atas yang bercerita tentang asal mula penciptaan, hadits ini adalah bagian dari doa Nabi ketika hendak tidur. Ini menunjukkan bahwa keberadaan Allah yang ada tanpa bertempat di mana pun tetap berlangsung selamanya, bukan hanya saat awal mula sebelum Allah menciptakan seluruh hal. Dalil ketiga, Firman Allah ๏ทป ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูƒูŽู…ูุซู’ู„ูู‡ู ุดูŽูŠู’ุกูŒ โ€œTak ada sesuatu pun yang serupa sedikit pun dengan-Nya.โ€ QS. As-Syura 11 Ayat ini menafikan semua bentuk keserupaan secara mutlak. Seluruh alam materi yang kita kenal seluruhnya bertempat. Bertempat berarti punya dimensi tertentu, massa tertentu, batasan tertentu dan dalam ruang tertentu. Bila Allah tak sama sedikit pun dengan apa pun berarti tak mungkin Allah bertempat sebab yang bertempat pasti menempati ruang. Ruang itu sendiri harus lebih besar, lebih kokoh, dan ada sebelum keberadaan-Nya atau paling tidak, ada bersamaan dengan diri-Nya dan tetap kekal bersama-Nya. Ini tentu bermasalah sebab berarti mengatakan ada dua hal yang qadรฎm, yakni Allah dan ruang tempat Allah. Dalil keempat, Firman Allah ๏ทป ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ุตู‘ูŽู…ูŽุฏู "Allah yang Maha Dibutuhkan.โ€ QS. Al-Ikhlas 2 ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุบูŽู†ููŠู‘ูŒ ุนูŽู†ู ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู†ูŽ โ€œSesungguhnya Allah Maha-tak butuh pada apa pun selain Diri-Nya.โ€ QS. Ali Imran 97 Kedua ayat tersebut menegaskan bahwa segala sesuatu selain Allah 'alam membutuhkan Allah yang menciptakan, mendesain, merawat dan menentukan segala sesuatu terkait keberadaannya. Sedangkan Allah sendiri sama sekali tak butuh semua itu. Ruang dan waktu adalah salah satu ciptaan Allah yang didesain serta diatur cara kerjanya sesuai kehendak Allah tanpa sedikit pun Allah berada di dalamnya atau terpengaruh oleh keduanya. Allah telah ada sebelum semua itu ada dan tak berubah setelah semua ada dan terus ada setelah semua binasa. Bila dipahami bahwa keberadaan Allah haruslah bertempat di suatu ruang, maka itu berarti keberadaan Allah membutuhkan adanya ruang. Kebutuhan Allah akan apa pun adalah mustahil bagi Allah, sesuai dengan ayat di atas. Dalil kelima adalah segala pengungkapan Allah tentang lokasi diri-Nya yang berbeda-beda, baik dalam Al-Qurโ€™an dan dalam hadits. Kadang keberadaan Allah diungkapkan seolah di atas langit, kadang seolah di bumi bersama manusia dalam semua aktivitasnya, kadang seolah persis di depan manusia, kadang seolah meliputi kita, kadang seolah dekat sekali bahkan lebih dekat dengan urat leher kita, kadang diungkapkan bahwa posisi terdekat dengan Allah adalah saat sujud, dan banyak ungkapan lainnya. Ini semua kalau dibaca secara objektif hanyalah sekedar ungkapan saja akan eksistensi Allah yang Maha Tinggi, Maha Agung, Maha Dekat, Maha Mengetahui dan Maha Mengawasi. Memaknai semua ungkapan tersebut sebagai lokasi secara fisik merupakan kemustahilan sebab akan terlihat bahwa ayat dan hadits akan saling bertentangan. Sedangkan membagi-bagi sekehendak hati dengan memahami seluruh dalil yang mengungkapkan seolah di atas sebagai lokasi Allah secara fisik sedangkan seluruh dalil yang seolah di bumi sebagai ungkapan kiasan berupa ilmu dan pengawasan, adalah tindakan yang tak ada satu pun dalilnya dari al-Qur'an dan hadits. Syekh Ibnu Abdil Barr secara objektif berkata ูˆูŽูููŠู‡ู ุงู„ุฑู‘ูŽุฏู‘ู ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู†ู’ ุฒูŽุนูŽู…ูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุนูŽุฑู’ุดู ุจูุฐูŽุงุชูู‡ู ูˆูŽู…ู‡ู…ุง ุชูุคููˆู‘ูู„ูŽ ุจูู‡ู ู‡ูŽุฐูŽุง ุฌูŽุงุฒูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุชูŽุฃูŽูˆู‘ูŽู„ูŽ ุจูู‡ู ุฐูŽุงูƒูŽ โ€œDalam hadits [yang menyebutkan Allah berada di depan orang shalat], ada gugatan bagi orang yang menyangka bahwa Allah ada di atas Arasy dengan Dzat-Nya. Ketika dalil ini [yang mengatakan Allah di depan orang shalat] boleh ditakwil dengan dalil itu [yang mengatakan Allah di atas Arasy], maka demikian juga dalil ini boleh dibuat untuk mentakwil dalil yang itu.โ€ Ibnu Hajar, Fath al-Bรขry, juz I, halaman 508. Itulah beberapa dalil naqli dari Al-Qurโ€™an hadits yang menjadi bukti bahwa Allah ada tanpa tempat. Adapun pernyataan manusia biasa, siapa pun itu, yang bertentangan dengan dalil di atas, maka dapat dipastikan tidak tepat. Selain dalil-dalil aqli, kesimpulan bahwa Allah tak bertempat juga didukung oleh dalil-dalil rasional yang tak terbantahkan. Wallahu aโ€™lam. Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember

allah ada tanpa tempat